“Revolusi adalah harga mati..Kontra Revolusi, adalah pengkhianatan terhadap perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia”
oooooOOOOooooo
“Menentang pemerintah adalah subversif, siapa yang membangkang, tunggulah, ia akan mati terbujur di Nusakambangan.”
oooooOOOOooooo
“ Al-Qaidah, Jamaah Islamiah, Dr.Azhari, Noordin M.Top dan jaringan-jaringannya adalah teroris yang mengancam kedaulatan negara, harus dilenyapkan dari muka bumi ini.”
Begitulah kira-kira tiga petik kalimat yang mendeskripsikan “cap” (baca : julukan) dari negara kita kepada orang-orang yang dianggap mengacaukan stabilitas politik dan keamanan negeri ini. Kontra Revolusi pada masa orde lama, Subversif di orde baru, dan Teroris pada orde reformasi. Sebutan yang, jika ditilik hakikatnya, sesungguhnya setali tiga uang (serupa) , cuma saja zamannya berbeda.
Orde Lama dibawah kepemimpinan Bung Karno adalah masa dimana perlawanan rakyat untuk sepenuhnya lepas dari cengkraman kolonialisme tengah mencapai puncaknya. Bung Karno dengan kharismanya menghipnotis hampir seluruh rakyat Indonesia untuk bersama-sama berjuang mencapai kemerdekaan 100%.
Soekarno bersama massa radikal progresifnya senantiasa menyerukan revolusi Indonesia; perubahan total pada fondasi negara. Jika kaum revolusioner adalah kaum yang menginginkan perubahan radikal dan fundamental dalam tata kehidupan masyarakat secara cepat, maka terdapat pula golongan-golongan yang sepertinya tidak sepakat dengan revolusi yang tengah digencarkan, mereka ini lah yang pada rezim itu dicap sebagai kontra-revolusi. Orang-orang yang tidak sejalan dengan cita-cita Soekarno untuk melakukan perubahan menyeluruh secara cepat (revolusi) di negeri ini. Pada masa itu setiap orang harus siap tidur di penjara jika dituduh kontra revolusi.
Revolusi 1945 dengan Soekarno sebagai Panglima Besar Revolusi akhirnya runtuh juga di tangan para kelompok kontra revolusioner, puncaknya adalah ‘kudeta’ Letjen. Soeharto melalui momen GKOS/PKI 1965 yang kemudian membawa Indonesia memasuki masa Orde Baru, yang tanpa ‘dengung revolusi’ sama sekali.
Orde Baru adalah rezim yang dibangun atas dasar rasa takut. Bila dilihat dari proses terbentuknya, Orde Baru disemai dari adanya persaingan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Angkatan darat (AD) memperebutkan pengaruh politik nasional. Persaingan itu pula yang membuat mimpi besar Soekarno menyatukan kekuatan politik Nasionalis, Agama, dan Komunis (NASAKOM) menjadi kekuatan progresif-revolusioner membangun Indonesia raya menjadi gagal.
Penyebutan “yang baru” merupakan keinginan untuk mengkontraskan diri dari “Orde (yang) Lama.” “Yang lama” dipandang sebagai keadaan kacau di mana-mana akibat pertentangan politik dan ideologi, revolusi yang tak kunjung usai, serta ekonomi yang tidak membawa kemakmuran. Sedangkan “yang baru” menampilkan diri sebagai pembawa perubahan yang ingin membawa bangsa Indonesia kepada kemakmuran ekonomi dan kemajuan teknologi.
Jika orde yang lama, kelompok-kelompok penentang penguasa dilabeli julukan kontra revolusi, maka pada orde yang baru ini, subversive adalah senjata pembasmi untuk membungkam mereka yang membangkang. Subversive merupakan instrument ampuh pemerintah untuk menyerang lawan-lawan politik, pejuang pembebasan, penentang pemerintah, dan siapa saja yang dianggap dapat mengancam kelanggengan kekuasaan rezim.
Sebagaimana disebutkan diatas, orde baru adalah rezim yang disemai atas dasar rasa takut, terutama ketakutan pada kata ’revolusi’. Ketakutan pemerintah Orde Baru pada kata revolusi adalah ketakutan pada keadaan yang dipandang bakal mengancam kelanggengan kekuasaannya. Ketakutan itu diterjemahkan ke dalam kata “komunis” dan “kriminal”. Maka tak heran, setiap menghadapi individu atau kelompok yang ditengarai bakal menimbulkan kerisauan sosial, dengan serta merta dicap sebagai komunis atau kriminal.
Stigma komunis yang merupakan pelabelan penguasa kepada lawan-lawannya, seketika menjadi stigma social di masyarakat melalui propaganda-propaganda rezim. Mereka yang ‘berbau’ komunis serta merta akan dikenakan pasal-pasal subversive, dengan hukuman yang demikian berat.
Subversi, meskipun dengan pasal-pasal karet dan kekaburan makna, adalah kata yang paling sering muncul dalam wacana public di kala itu. Media massa sebagai alat propaganda adalah unsur yang paling berperan dalam mencitrakan dan melegitimasi kekuasaan, melalui pembangunan opini publiknya.
Pelabelan-pelabelan subversive oleh orde baru dilakukan tidak hanya pada lawan-lawan politik semata, bahkan wong cilik yang tak mengerti sedikit pun tentang negara, turut pula terjerat. Pemalsuan pestisida oleh seorang Ibu di Bandung dan pemalsuan kupon hadiah oleh seorang cukong eceran, juga dianggap tindakan subversive. Selain itu penyebaran roman tetralogi Pramoedya Anantatoer, turut pula dijerat pasal-pasal subversive, pelaku huru-hara kasus Tanjung Priuk, peledakan bank BCA, demonstrasi mahasiswa ITB 5 Agustus 1989, dan lain sebagainya, adalah contoh-contoh penggunaan UU Subversif yang ‘sak karepe dewe’.
Apa yang dilakukan oleh Orde Baru itu tak lepas dari upayanya mempertahankan kekuasaan. Bila mengikuti perspektif Foucault, maka upaya itu dilakukan melalui pewacanaan dan pencitraan secara terus-menerus, sehingga apa yang diopinikan dipandang sebagai bentuk kebenaran.
Kondisi yang tak jauh berbeda, tejadi pula di era reformasi ini. Pasca penyerangan Gedung Pentagon di Washington, AS, 11 September 2001, terorisme menjadi wacana yang paling ‘menarik’ dan paling sering di-blow up- oleh media massa dalam dan luar negeri. Terlebih setelah tragedy Bom Bali 1 & 2, negeri ini seakan sangat akrab dengan terorisme.
Terorisme, melalui perjalanan panjang pergeseran maknanya, kini banyak diasosasikan dengan gerakan-gerakan ekstremis umat Islam. Jaringan Al-Qaidah dalam lingkup internasional, dan jaringan Jamaah Islamiah dalam lingkup Indonesia, adalah kelompok-kelompok muslim yang dituduh ‘gembong teroris’.Namun, banyak pihak yang kemudian menganggap bahwa kata terorisme, hingga kini belum memiliki batasan-batasan yang jelas. Sama dengan subversive pada masa orde baru yang sangat luas, sehingga tindakan kecil yang tidak membahayakan negara pun dianggap subversi, terorisme belum memiliki konseptualisasi yang jelas dan jernih.
Konseptualisasi mengenai konsep dan definisi terorisme boleh jadi juga merupakan sumbangan dari media massa. Media massa ‘berkewajiban’ mengkomunikasikan fenomena kompleks itu dalam satu ruang sempit berupa kolom-kolom sempit surat kabar atau waktu tayang televisi, sehingga tanpa disadari media massa melabeli berbagai macam tindakan kekerasan dengan sebutan ‘terorisme.
Terlepas dari kekaburan konsep terorisme itu, telah menjadi opini public bahwa terorisme di Indonesia dan Internasional adalah berasal dari kaum muslim, seperti halnya pada masa orde baru, tindakan-tindakan subversive diasosiasikan kepada komunisme.
Tulisan ini mengajak kita melakukan eksplorasi lebih dalam terkait realita-realita pencitraan itu. Bagaimana dan mengapa, penguasa rezim cendrung melabeli golongan-golongan tertentu dengan pencitraan-pencitraan negatif ; kontra revolusi, subversi, dan terorisme itu??? Apakah ketiga ‘label’ itu sesungguhnya hanyalah semacam alat semantic kekuasaan oleh para penguasa untuk mengamankan pemerintahannya dari kelompok anti-pemerintah???. Menjadi tugas kita bersama untuk mengkaji fenomena tersebut lebih dalam lagi.
Sebuah pernyataan keraguan dari Noam Chomsky, mungkin cukup untuk menjadi landasan pengkajian kita terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Chomsky mencoba menunjukkan bagaimana sebuah peristiwa yang sama dapat dimaknai secara berbeda, dengan menyitir sebuah percakapan bajak laut dan armada pasukan laut di abad pertengahan. Alkisah suatu ketika sang bajak laut dapat ditangkap oleh armada pasukan laut. Bajak laut yang tertangkap, ngotot tidak mau ditangkap oleh armada. Ini yanga dikatakannya : “ Mengapa saya yang kecil disebut perampok, sementara Anda yang mengambil upeti dalam jumlah besar disebut Pahlawan?
“ Pemerintahan yang otoriter memang cenderung memelihara rasa takut di tengah masyarakat. Upayanya antara lain melalui pencitraan dan pelabelan terhadap gerakan, aktivitas atau golongan tertentu”. Hipotesa tersebut boleh jadi merupakan kesimpulan atas pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan.
Mari kita diskusikan lebih lanjut…
by_nashruddin qawiyurrijal
*tulisan ini disampaikan pada Diskusi Rutin Ikatan Kekeluargaan Mahasiswa/Pelajar Indonesia Sulawesi Selatan (IKAMI SULSEL) Cabang Malang,14 Agustus 2009
Tampilkan postingan dengan label CritiCaL tHiNkiNG'. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CritiCaL tHiNkiNG'. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 10 Oktober 2009
Senin, 06 April 2009
dARi DPT hiNGGA GoLPut

Gendrang pemilu ntar lagi ditabuh nih. Kamis, 9 ApriL 2009 manusia-manusia Indonesia bakal punya hajatan besar, yang sejak zaman Bung Karno tepatnya pada pemilu pertama tahun 1955 akrab dengan julukan 'pesta demokrasi'. Pesta demokrasi berarti rakyat Indonesia berpesta dalam membentuk pemerintahan yang dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat (demos & kratos kan??).
Seperti pesta-pesta yang lain, entah itu pesta perkawinan, pesta kematian (kalau ada seh!!), pesta khitanan, pesta wisuda, pokoknya semua pesta deh, pasti akan selalu dipenuhi keramaian. Keramaian akan kerumunan massa di TPS, keramaian akan arak-arakan kampanye yang menjadi semacam undangan bagi rakyat untuk mengikuti pesta, pun keramaian akan konflik-konflik yang bakal timbul nantinya setelah pesta itu usai.
Menjelang pesta yang tinggal beberapa hari ini, gonjang-ganjing masalah peserta pesta (Daftar Pemilih Tetap) masih saja mengemuka. Disinyalir ada manipulasi lah, ada data yang tidak complete lah, ada pemilih yang namanya dobel sampe ratusan kali lah, pokoknya ada-ada aja deh.
Tuh semua gara-gara Pilgub Jawa Timur sih. Dipicu oleh pengunduran diri Pak Kapolwil Jatim karena mengetahui banyak kecurangan DPT yang dilakukan oleh salah satu calon saat Pemilu tahap ke 3 di Pulau Mataram (MADURA Kota Garam,,hehe ), akhirnya DPT nasional juga kena imbas deh.Tapi bagus lah, biar semua masalah yang bakal mengacau balaukan pemilu nanti bisa diselesaikan secapatnya, supaya apa??supaya rakyat gak lagi terombang-ambing. Terombang ambing atas apa??terombang ambing atas janji-janji manis para caleg yang gak tahu besok-besok kalau mereka udah duduk di kursi empuk dewan itu, bakal membuktikan gak janji dari mulut manis mereka.
Sukses aja deh buat pemilu kita besok. Sowry yah Pak Ketua KPU, aku gak bisa ikut pesta itu. Aku gak nyoblos sih soalnya (eH,,sekarang diganti contreng yah??). Aku gak bisa ikut nyontreng alias golput..Golongan Putih gitu low.Aliran sesat ala pemilu. Itu seh kata MUI,"golput haram" katanya.
Aku sih sepakat-sepakat aja ma golput, wong gak ada larangannya dalam Al-Qur'an koQ. Agama dipolitisasi!! Tapi golput ku bukan karena gak mau milih lho, lebih karena aku nih anak rantau. Lagi mengembara di kampung orang. Jadi gak bisa nyontreng deh, semua peserta pemilu kan cuma bisa nyontreng d daerah yang sesuai ma alamat KTP mereka.
Makanya, pemerintah tuh harusnya menyoroti itu. Carikan solusi yang terbaik buat suara anak-anak rantau. Masa dibiarin begitu aja. Bayangin deh, berapa juta mahasiswa yang kuliah bukan di daerah mereka. Syukur-syukur kalau kampung mereka tuh jaraknya cuman 75 kilometer dari tempat kuliahnya, kan bisa pulang tuh.Tapi kalo harus nyeberang lautan atau harus terbang menembus awan dulu, gimana dunk??. Masa kita -mahasiswa rantau- rela pulkam hanya untuk nyontreng doank. Ngabis-ngabisin duit, tenaga, n waktu kan?? Aku mah emoooooh pulang kampung cuman buat nyontreng kertas suara penentu nasib rakyat itu. Malang-Makasar jauh men, butuh duit 500 ribuan sekali jalan, PP berarti 1 jutaan dunk. Waaaah bisa bokek alias terserang kanker (kantong kering)tuh!!
Jadi, kalau nurut aku nih ya, pemerintah harusnya mengatur itu. Buatlah regulasi tentang anak rantau yang juga pengen nyalurin hak suaranya, biar suara ratusan ribu dari kami -mahasiswa pengembara- itu gak terbuang percuma. Kan eman (percuma) toh??.
So, kalau bisa pemilu berikutnya KPU udah nyelenggarain pemungutan suara di kampus deh. Kerja sama ma pihak rektorat. Buatkan TPS di kampus khusus untuk mahasiswa dari luar kota, luar pulau. Kalau udah gitu kan, suara kita juga bisa ikut nentuin nasib bangsa ini kedepannya.
OK coyyyyyy???
Label:
CritiCaL tHiNkiNG'
Sabtu, 04 April 2009
FuCk tHe CapitALisM..

Tahukah kita apa itu Kapitalisme dan siapa itu kaum kapitalis??
Berikut defenisi kapitalis dan kapitalisme dari Kamus Ilmiah Populer "Edisi Millenium" oleh Burhani MS-Hasby Lawrens :
-> kapitalis adalah kaum bermodal ; pemilik saham ; penyandang modal; negara penganut kapitalisme
-> kapitalisme adalah sistem perekonomian yang berdasarkan hak milik partikelir yang menekankan kebebasan dalam lapangan produksi, kebebasan untuk membelanjakan pendapatan, bermonopoli, dan sebagainya sedang alat-alat produksi dikuasasi oleh kaum kapital.
So..that's it
Kapitalisme sesungguhnya adalah sistem ekonomi yang belakangan karena daya hegemoni berkat ekspansi kapitalis yang mengglobal, menjadikannya sebagai salah satu ideologi yang kini menguasai dunia.
Seluruh sendi kehidupan kita saat ini adalah bagian dari "setting" an kapitalis..mulai dari harga lalapan yang Rp.4500, kenaikan SPP, Badan Hukum Pendidikan, hingga program-program acara yang ditayangkan televisi maupun berbagai kemudahan di virtual world adalah wujud konkret dari hegemoni kapitalisme.
Sebuah tulisan menarik tentang kapitalisme pada harian Kompas, Rabu, 18 Maret 2009 dengan judul Menimbang Ulang Kapitalisme, menyebutkan :
"...dalam the schumacher lecture (6 Oktober 2008, sebuah kuliah publik tahunan di Inggris untuk menghormati ekonom EF.Schumacher (penulis Small is Beautiful, Susan George (penulis The Lugano Report) melukiskan kapitalisme sekarang dengan ungkapan begini : "kapitalisme dewasa ini tidak lagi waras menurut arti kewarasan yang dipahami orang-orang waras"
Maksudnya apa yah???
Apa yang tidak waras pada kapitalisme dewasa ini??
Amartya Sen, melukiskannya sebagai jenis kapitalisme 'yang menyiapkan malapetaka' karena 'tidak adanya regulasi atas berbagai malpraktik keuangan yang niscaya berakibat pada spekulasi ganas dan kebuasan pengejaran laba.
Atau dengan meminjam ungkapan Adam Smith, "kapitalisme dewasa ini ada di tangan para pemboros dan penjudi yang membuat modal jatuh ke tangan orang-orang yang paling berperan menghancurkannya".
Kalau itu belum cukup, Jack Welch, si pencipta gerakan 'aktivisme pemegang saham' menyebut dengan kasar apa yang dikejar kapitalisme dewasa ini sebagai 'kedunguan paling besar".
Jadi apa yang dapat kita simpulkan dari itu semua??
"kapitalisme adalah sistem yang bobrok, merusak, dan menjajah"
Mengapa??
Lihat saja orang-orang yang notabene dulunya menuhankan kapitalisme kini berbalik menghujat..Adam Smith dkk..akhirnya mereka tersadarkan dari mimpi buruk mereka..
Semoga itu benar adanya..
Label:
CritiCaL tHiNkiNG'
MUSIK SEBAGAI MEDIA PERLAWANAN "catatan singkat seorang demonstran"
Hidup Mahasiswa..
Hidup Mahasiswa..
Hidup Rakyat..
Pekikan kata-kata penuh gelora itu sungguh sangat akrab di telinga ku, tentu juga di telinga kawan-kawan dan tentu pula di telinga masyarakat Indonesia, sejak zaman Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Reformasi (1998), bahkan hingga kini meskipun kedengarannya kian redup oleh semakin surutnya ghirah "perjuangan" mahasiswa Indonesia di tengah dunia globalisasi yang menggila ini.
Sebagai seorang demonstran di lorong-lorong jalanan sempit nan padat kota Malang, aku paham betul bahwa pekikan-pekikan kata perlawanan sungguh lah membakar semangat dalam diri, yang menjadikan kita "para agent of chance" memiliki semangat pantang mundur bak api yang terus berkobar-kobar, bukan semangat cacing yang takut pada sinar mentari. Pun begitu dengan bait-bait lagu "pergerakan" yang aku yakini selalu dapat memberi spirit tersendiri dalam perjuangan di "jalanan", menantang teriknya surya, laras, pentungan, bahkan senapan aparat demi sebuah kata "LAWAN".
Coba kawan cermati bait per bait Lagu berikut.
Hayati dan bawa diri kalian laksana berada di jalanan berdebu, di tengah kerumunan massa progresif yang diselingi pekikan-pekikan perlawanan.."Hidup Mahasiswa..Hidup Rakyat"
di sini negeri kami
tempat padi terhampar
samuderanya kaya raya
negeri kami subur Tuhan..
di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak buruh tak sekolah
pemuda desa tak kerja
mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
BUNDA relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat..
mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
BUNDA relakan darah juang kami
padamu kami berjanji..
padamu kami berjanji..
Sungguh kalimat-kalimat emphaty dan penyadaran dari lagu Darah Juang tersebut begitu mampu membakar rasa takut pada apa pun dengan bahan bakar keringat dan lecutan korek api terik mentari. Membuyarkan segala ketakutan pada ancaman anjing-anjing negara dan menumbuhkan gairah perlawanan terhadap ketertindasan anak negeri.
Setidaknya keyakinan akan sukma sebuah musik (lagu) berpekik perlawanan tak lahir tiba-tiba hanya dengan menatap aksi massa mahasiswa dan rakyat dari layar televisi berukuran 21 inch yang sangat hyper reality itu, tapi datang dari sedikitnya belasan kali menggumulkan diri di aksi massa sektor mahasiswa, buruh,tani,dan kaum miskin kota Malang, yang harus diakui masih sangat 'lunak' dalam hal progresifitas gerakan dibandingkan kota-kota lain di Indonesia dengan kuantitas dan kualitas perlawanan yang lebih bombastis ; Makassar, Yogyakarta, Jakarta.
Atau kawan cermati lirik-lirik berikut,,
Buruh..Tani..Mahasiswa..Rakyat Miskin Kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu swara
demi tugas suci yang mulia
hari-hari esok adalah milik kita
terbebasnya masyarakat pekerja
terciptanya tatanan masyarakat
demokrasi sepenuhnya
di bawah topi jerami
ku susuri garis matahari
berjuta kali turun aksi
bagiku sebuah langkah pasti
di bawah kuasa tirani
ku susuri garis revolusi
bersama buruh dan petani
kita tuntaskan revolusi..
Tak dapat ditampik, musik (meski hanya diiringi riuh tepuk tangan) berisi bait-bait perjuangan adalah media perlawanan yang akan selalu berjalan beriringan dengan pekikan-pekikan revolusi dari mulut dan qalbu para pemuda negeri yang gandrung akan perubahan. Musik sebagai media perlawanan adalah sesuatu yang pasti dan semestinya.
Mungkin kawan takkan merasakan apa yang aku rasakan sehingga menganggap lirik-lirik lagu di atas hanya lah sebuah kumpulan kata-kata idealis "kiri" yang tahunya cuma selalu protes dan menuntut,,tapi tatkala kawan terjun langsung di belantara perlawanan rakyat, kawan akan tahu sendiri betapa dahsyatnya efektivitas musik progresif dalam membentuk mental api seorang pejuang.
Jika, masih ada dan mungkin masih sangat banyak mahasiswa yang belum merasakan teriknya mentari di jalan aspal berdebu dengan ancaman laras, pentungan, dan senapan aparat, maka aku menganggap "kemahasiswaan" itu belum lah lengkap.
Tilik lah sejarah..
Wiji Thukul 'sang pejuang reformasi', mahasiswa dengan progresifitas tinggi yang harus diculik oleh budak-budak rezim karena mereka takut akan gelora semangat seorang Wiji,,
Atau Pramoedya Anantatoer 'sang sastrawan sejati' yang sungguh berharap generasi muda sekarang akan menghancurkan orde baru, hingga ke akar-akarnya, ke begundal-begundalnya yang paling rendah sekalipun.
Pun juga, 4 mahasiswa Trisakti 'pahlawan reformasi' yang meregang nyawa dalam gelora perlawanan..hanya demi membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan pemerintah negeri sendiri "Soeharto"..
Serta beragam tauladan-tauladan jalanan lain yang sungguh mulya, meskipun mungkin sebagian orang menganggap mereka mati sia-sia tetapi 'yang berkata begitu' mereka itulah yang kami sebut "anjing-anjing negara".."budak-budak kapitalisme".."penjilat-penjilat darah rakyat".
Silahkan kawan rasakan sendiri..sejauh mana daya dobrak sebuah musik sebagai media perlawanan rakyat..
Tanyakan pada singa-singa jalanan yang kawan kenal..
Hanya ada satu kata kawan "LAWAN"
Hidup Mahasiswa..
Hidup Rakyat..
Pekikan kata-kata penuh gelora itu sungguh sangat akrab di telinga ku, tentu juga di telinga kawan-kawan dan tentu pula di telinga masyarakat Indonesia, sejak zaman Malari (Malapetaka 15 Januari 1974), Reformasi (1998), bahkan hingga kini meskipun kedengarannya kian redup oleh semakin surutnya ghirah "perjuangan" mahasiswa Indonesia di tengah dunia globalisasi yang menggila ini.
Sebagai seorang demonstran di lorong-lorong jalanan sempit nan padat kota Malang, aku paham betul bahwa pekikan-pekikan kata perlawanan sungguh lah membakar semangat dalam diri, yang menjadikan kita "para agent of chance" memiliki semangat pantang mundur bak api yang terus berkobar-kobar, bukan semangat cacing yang takut pada sinar mentari. Pun begitu dengan bait-bait lagu "pergerakan" yang aku yakini selalu dapat memberi spirit tersendiri dalam perjuangan di "jalanan", menantang teriknya surya, laras, pentungan, bahkan senapan aparat demi sebuah kata "LAWAN".
Coba kawan cermati bait per bait Lagu berikut.
Hayati dan bawa diri kalian laksana berada di jalanan berdebu, di tengah kerumunan massa progresif yang diselingi pekikan-pekikan perlawanan.."Hidup Mahasiswa..Hidup Rakyat"
di sini negeri kami
tempat padi terhampar
samuderanya kaya raya
negeri kami subur Tuhan..
di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka
anak buruh tak sekolah
pemuda desa tak kerja
mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
BUNDA relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat..
mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar
BUNDA relakan darah juang kami
padamu kami berjanji..
padamu kami berjanji..
Sungguh kalimat-kalimat emphaty dan penyadaran dari lagu Darah Juang tersebut begitu mampu membakar rasa takut pada apa pun dengan bahan bakar keringat dan lecutan korek api terik mentari. Membuyarkan segala ketakutan pada ancaman anjing-anjing negara dan menumbuhkan gairah perlawanan terhadap ketertindasan anak negeri.
Setidaknya keyakinan akan sukma sebuah musik (lagu) berpekik perlawanan tak lahir tiba-tiba hanya dengan menatap aksi massa mahasiswa dan rakyat dari layar televisi berukuran 21 inch yang sangat hyper reality itu, tapi datang dari sedikitnya belasan kali menggumulkan diri di aksi massa sektor mahasiswa, buruh,tani,dan kaum miskin kota Malang, yang harus diakui masih sangat 'lunak' dalam hal progresifitas gerakan dibandingkan kota-kota lain di Indonesia dengan kuantitas dan kualitas perlawanan yang lebih bombastis ; Makassar, Yogyakarta, Jakarta.
Atau kawan cermati lirik-lirik berikut,,
Buruh..Tani..Mahasiswa..Rakyat Miskin Kota
bersatu padu rebut demokrasi
gegap gempita dalam satu swara
demi tugas suci yang mulia
hari-hari esok adalah milik kita
terbebasnya masyarakat pekerja
terciptanya tatanan masyarakat
demokrasi sepenuhnya
di bawah topi jerami
ku susuri garis matahari
berjuta kali turun aksi
bagiku sebuah langkah pasti
di bawah kuasa tirani
ku susuri garis revolusi
bersama buruh dan petani
kita tuntaskan revolusi..
Tak dapat ditampik, musik (meski hanya diiringi riuh tepuk tangan) berisi bait-bait perjuangan adalah media perlawanan yang akan selalu berjalan beriringan dengan pekikan-pekikan revolusi dari mulut dan qalbu para pemuda negeri yang gandrung akan perubahan. Musik sebagai media perlawanan adalah sesuatu yang pasti dan semestinya.
Mungkin kawan takkan merasakan apa yang aku rasakan sehingga menganggap lirik-lirik lagu di atas hanya lah sebuah kumpulan kata-kata idealis "kiri" yang tahunya cuma selalu protes dan menuntut,,tapi tatkala kawan terjun langsung di belantara perlawanan rakyat, kawan akan tahu sendiri betapa dahsyatnya efektivitas musik progresif dalam membentuk mental api seorang pejuang.
Jika, masih ada dan mungkin masih sangat banyak mahasiswa yang belum merasakan teriknya mentari di jalan aspal berdebu dengan ancaman laras, pentungan, dan senapan aparat, maka aku menganggap "kemahasiswaan" itu belum lah lengkap.
Tilik lah sejarah..
Wiji Thukul 'sang pejuang reformasi', mahasiswa dengan progresifitas tinggi yang harus diculik oleh budak-budak rezim karena mereka takut akan gelora semangat seorang Wiji,,
Atau Pramoedya Anantatoer 'sang sastrawan sejati' yang sungguh berharap generasi muda sekarang akan menghancurkan orde baru, hingga ke akar-akarnya, ke begundal-begundalnya yang paling rendah sekalipun.
Pun juga, 4 mahasiswa Trisakti 'pahlawan reformasi' yang meregang nyawa dalam gelora perlawanan..hanya demi membebaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan pemerintah negeri sendiri "Soeharto"..
Serta beragam tauladan-tauladan jalanan lain yang sungguh mulya, meskipun mungkin sebagian orang menganggap mereka mati sia-sia tetapi 'yang berkata begitu' mereka itulah yang kami sebut "anjing-anjing negara".."budak-budak kapitalisme".."penjilat-penjilat darah rakyat".
Silahkan kawan rasakan sendiri..sejauh mana daya dobrak sebuah musik sebagai media perlawanan rakyat..
Tanyakan pada singa-singa jalanan yang kawan kenal..
Hanya ada satu kata kawan "LAWAN"
Label:
CritiCaL tHiNkiNG'
Langganan:
Postingan (Atom)
